AdvertorialDPRD KALTIM

Dilema Lulusan SMK di Kaltim, Antara Mimpi dan Realita Industri

×

Dilema Lulusan SMK di Kaltim, Antara Mimpi dan Realita Industri

Sebarkan artikel ini
Anggota Komisi IV DPRD Kaltim, Agusriansyah Ridwan. (Foto: Ist)
Example 468x60

UpateNusantara.id, Samarinda – Di balik gedung-gedung sekolah kejuruan yang tersebar di Kalimantan Timur, ribuan siswa menaruh harapan besar. Mereka belajar teknik mesin, akuntansi, tata boga, dan berbagai keterampilan lain yang dijanjikan bisa mengantarkan mereka langsung ke dunia kerja. Namun, kenyataan di luar pagar sekolah tak semudah yang dibayangkan.

Agusriansyah Ridwan, Anggota Komisi IV Dewan Perwakilam Rakyat Daerah (DPRD) Kalimantan Timur (Kaltim), menaruh perhatian serius pada kondisi ini. Dalam pengamatannya, lulusan SMK justru menjadi penyumbang tertinggi angka pengangguran di provinsi ini. Sebuah ironi, mengingat pendidikan vokasi dirancang sebagai jalur cepat menuju dunia kerja.

“Faktor utama adalah kompetensi lulusan yang belum memenuhi standar industri,” ujarnya saat diwawancarai awak media.

Ia menilai bahwa minimnya fasilitas praktik dan workshop di sekolah menjadi salah satu penghambat utama. Tanpa ruang praktik yang memadai, keterampilan siswa pun tidak terbentuk dengan optimal.

Namun, bukan hanya soal infrastruktur. Agusriansyah juga menyoroti lemahnya kolaborasi antara dunia pendidikan dan industri. Ia menggambarkan seharusnya ada jembatan yang menghubungkan dua dunia ini, sebuah kemitraan resmi yang memungkinkan kebutuhan industri disesuaikan dengan kurikulum di sekolah.

“Jika ada perjanjian antara Dinas Pendidikan dan korporasi, maka kebutuhan tenaga kerja bisa diakomodasi oleh lulusan SMK. Sekolah akan tahu harus melatih siswanya seperti apa,” jelasnya.

Ia membayangkan sebuah skema kerja sama yang dituangkan dalam nota kesepahaman (MoU), lengkap dengan rincian keahlian yang dibutuhkan oleh industri. Dengan begitu, siswa yang melakukan praktik kerja lapangan tidak hanya ‘menitipkan’ waktu, tetapi benar-benar menyiapkan diri untuk diterima sebagai tenaga kerja.

“Ini juga akan menguntungkan perusahaan. Mereka tidak perlu mencari SDM dari luar, karena sudah punya kandidat yang disiapkan sejak dini,” tambahnya.

Agusriansyah mendorong pemerintah untuk segera melakukan dua hal; membenahi fasilitas praktik di SMK dan mempercepat pembentukan kemitraan strategis dengan dunia industri. Tanpa itu, katanya, lulusan SMK akan terus tertinggal dalam persaingan pasar kerja.

Di tengah sorotan terhadap tingginya angka pengangguran, pendidikan vokasi seharusnya bisa menjadi jawaban. Tapi selama tak ada keselarasan antara bangku sekolah dan kebutuhan industri, lulusan SMK akan terus berjalan di tempat, menunggu pintu yang belum tentu terbuka. (HM/Adv/DPRDKaltim)

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

− 1 = 1