AdvertorialDPRD KALTIM

Refleksi Hari Kartini, Perjuangan Emansipasi Perempuan Belum Selesai

×

Refleksi Hari Kartini, Perjuangan Emansipasi Perempuan Belum Selesai

Sebarkan artikel ini
Wakil Ketua DPRD Kaltim, Ananda Emira Moeis. (Foto: Ist)
Example 468x60

UpdateNusantara.id, Samarinda – 21 April 2025, menjadi hari yang penuh makna bagi perempuan Indonesia, memperingati perjuangan R.A. Kartini yang telah membuka jalan bagi emansipasi perempuan di tanah air.

Namun, di tengah perayaan itu, Wakil Ketua Dewan Perwakilam Rakyat Daerah (DPRD) Kalimantan Timur (Kaltim), Ananda Emira Moeis, melalui unggahannya di media sosial, mengingatkan bahwa perjalanan emansipasi perempuan masih jauh dari selesai.

Politisi muda dari PDI Perjuangan ini menulis pesan reflektif yang menggugah, “Semua bisa sekolah, tapi belum semua boleh jadi pintar. Banyak perempuan masih harus ‘izin’ untuk bermimpi.”

Ungkapan ini menegaskan bahwa meskipun akses pendidikan telah terbuka, masih banyak perempuan yang dibatasi oleh norma sosial dan tekanan budaya yang menghalangi mereka untuk mengembangkan potensi secara maksimal.

“Perjuangannya belum selesai. Masih banyak yang belum punya ruang untuk bisa ngejar pendidikan setinggi langit,” ungkap Ananda dengan nada penuh keprihatinan, menegaskan bahwa semangat Kartini untuk memperjuangkan pendidikan bagi perempuan masih sangat relevan di zaman sekarang.

Tak hanya itu, Ananda juga menyoroti kenyataan pahit yang masih dihadapi banyak perempuan Indonesia. Mereka terjebak dalam peran sosial yang menuntut mereka untuk menjadi ibu rumah tangga di usia muda, menjadi tulang punggung keluarga, atau bahkan menghadapi stigma negatif karena berani bercita-cita tinggi.

“Ada yang ‘terpaksa’ jadi ibu rumah tangga atau tulang punggung keluarga, padahal masih mau ngejar mimpi… Ada juga yang dibilang terlalu ambisius waktu ngejar beasiswa,” tambahnya, menggambarkan dilema yang dihadapi oleh banyak perempuan yang berjuang untuk meraih impian.

Namun, Ananda dengan tegas menyatakan bahwa Indonesia tidak kekurangan perempuan cerdas, melainkan kekurangan ruang dan kesempatan yang setara bagi mereka untuk berkembang.

“Negara ini tidak kekurangan perempuan cerdas, tapi kekurangan ruang bagi perempuan untuk tumbuh,” jelasnya.

Bagi Ananda, pendidikan bukan hanya tentang meraih ijazah, melainkan tentang memberi perempuan ruang untuk didengar, dipercaya, dan diberi kesempatan untuk berkontribusi. Baginya, ketika perempuan diberikan kesempatan yang sama, mereka dapat memberikan dampak besar bagi kemajuan bangsa.

Mengakhiri refleksinya, Ananda mengajak seluruh perempuan Indonesia untuk terus menghidupkan semangat Kartini, menjadi kuat, cerdas, dan berani memperjuangkan hak-hak mereka. Ia menekankan pentingnya perempuan untuk terus menjadi inspirasi bagi generasi mendatang.

“Saya mengajak seluruh perempuan untuk menjadi sosok yang kuat, cerdas, dan berani dalam memperjuangkan hak-haknya, serta mampu menjadi inspirasi bagi generasi mendatang,” pungkasnya dengan penuh keyakinan. (HM/Adv/DPRDKaltim)

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

90 − = 80