MetropolisRagam

JMSI dan Bupati PPU Satu Suara: Menenun Narasi Positif di Wilayah Penyangga IKN

×

JMSI dan Bupati PPU Satu Suara: Menenun Narasi Positif di Wilayah Penyangga IKN

Sebarkan artikel ini
Bupati PPU, Mudyat Noor bersama pengurus dan anggota JMSI Kaltim. (Foto: Ist)
Example 468x60

UpdateNusantara.id, Balikpapan — Di tengah dinamika pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) yang kian masif, satu kekuatan sering kali luput dari sorotan: media lokal. Padahal, di balik setiap narasi pembangunan yang dibaca publik, ada tangan-tangan jurnalis yang terus merangkai informasi menjadi jembatan antara pemerintah dan masyarakat.

Rabu (14/5/2025) sore, di salah satu ruang pertemuan Hotel Novotel Balikpapan, para pemimpin media daring yang tergabung dalam Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) dari berbagai daerah di Kalimantan Timur berkumpul.

Mereka tak hanya datang untuk mendengar, tapi juga membawa misi: memastikan bahwa wajah PPU, Kukar, Balikpapan, dan daerah penyangga IKN lainnya tidak hanya diberitakan—tapi dimengerti, dihargai, dan dipercaya.

Ketua JMSI Kaltim, Mohammad Sukri, membuka diskusi dengan sebuah pengakuan jujur. “Masih banyak stigma yang menempel di kawasan penyangga IKN. Kita sering hanya dilihat dari kekurangan, bukan dari potensi dan kontribusi,” ujarnya.

Pernyataannya menggambarkan tantangan yang dihadapi media lokal: merubah citra daerah, dari yang tertinggal menjadi yang terdepan.

Menurut Sukri, media memiliki kekuatan luar biasa untuk membentuk persepsi publik. “Sudah saatnya kita menyajikan wajah baru kawasan ini: bahwa di sini bukan lagi tempat yang dihindari, tapi tempat yang akan memimpin arah masa depan Indonesia,” katanya penuh semangat.

Dalam pertemuan tersebut, Bupati Penajam Paser Utara (PPU), Mudyat Noor, hadir bukan untuk memberi instruksi, tapi membuka ruang kolaborasi. Ia memandang JMSI sebagai mitra strategis yang mampu menyampaikan pesan pembangunan dengan cara yang lebih membumi dan mudah diterima masyarakat.

“Media bukan sekadar peliput. Mereka adalah mitra yang mendengar langsung suara warga dan menyampaikannya kepada kami,” ujar Mudyat.

Harapannya, media tidak hanya menyampaikan informasi, tapi juga menjadi navigator agar arah pembangunan tetap sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Lebih dari sekadar kerja jurnalistik, para anggota JMSI menyadari bahwa mereka tengah mengemban misi strategis: membangun narasi pembangunan yang inklusif. Narasi yang tidak hanya menonjolkan proyek besar, tetapi juga menggambarkan perjuangan masyarakat lokal, dinamika sosial, dan harapan warga yang hidup berdampingan dengan geliat IKN.

Media memiliki peran ganda—sebagai watchdog sekaligus storyteller. Mereka harus kritis namun juga membangun, menyajikan fakta namun juga menginspirasi. Dalam konteks ini, kerja sama yang dirintis antara JMSI dan pemerintah daerah bukan hanya kerja sama komunikasi, tapi kerja sama membentuk masa depan.

Pertemuan ini bisa jadi hanya berlangsung beberapa jam. Namun, resonansinya bisa meluas jauh ke ruang digital, ke pembaca di seluruh Indonesia. Jika narasi pembangunan ingin berhasil, ia harus diceritakan dengan cara yang tepat—dan media lokal lah yang paling tahu bagaimana menyampaikannya.

Lewat kerja-kerja kolaboratif ini, daerah penyangga IKN tak lagi hanya menjadi latar dari cerita besar ibu kota baru. Mereka akan menjadi tokoh utama dari sebuah kisah transformasi nasional. (HM)

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

97 − 95 =