AdvertorialDPRD Samarinda

Bukan Semata Kendala Teknis, Elnatan Sebut Anggaran Bikin Mahkota 2 Dibangun 15 Tahun

×

Bukan Semata Kendala Teknis, Elnatan Sebut Anggaran Bikin Mahkota 2 Dibangun 15 Tahun

Sebarkan artikel ini
Jembatan Achmad Amins atau Jembatan Mahkota 2 Samarinda. (Foto : Ist)
Example 468x60

UpdateNusantara.id, SAMARINDA – Pembangunan Jembatan Achmad Amins atau Jembatan Mahkota 2 di Samarinda membutuhkan waktu sekitar 15 tahun sebelum akhirnya dapat digunakan masyarakat. Lamanya pengerjaan proyek tersebut disebut bukan terutama akibat sulitnya konstruksi, melainkan karena pendanaan yang tidak tersedia secara berkesinambungan.

Anggota Komisi III DPRD Samarinda, Elnatan Pasambe, yang pernah terlibat langsung dalam proyek itu, menuturkan pembangunan jembatan yang dimulai pada 2002 tersebut berlangsung mengikuti kemampuan keuangan pemerintah. Akibatnya, pekerjaan tidak dapat berjalan secara konsisten dari awal hingga selesai.

Elnatan pernah menjabat sebagai wakil kepala proyek pada periode 2004–2011. Berdasarkan pengalamannya, sejumlah pekerjaan konstruksi sebenarnya dapat diselesaikan dalam waktu relatif singkat apabila anggaran tersedia sesuai kebutuhan.

Ia mencontohkan pembangunan jembatan pendekat yang dapat dikerjakan dalam kurun waktu sekitar dua tahun.

“Kita bangun jembatan pendekat itu enggak lama, cuma dua tahun,” ujar Elnatan.

Sementara itu, pengerjaan fondasi jembatan utama dilakukan melalui tahapan pengeboran dengan kedalaman mencapai sekitar 90 hingga 100 meter. Meski membutuhkan pekerjaan konstruksi yang terukur, menurutnya, kelanjutan proyek sangat ditentukan oleh ketersediaan dana.

Ketika anggaran memungkinkan, pengerjaan dapat dilanjutkan. Sebaliknya, keterbatasan pembiayaan membuat tahapan pembangunan harus menunggu dukungan dana berikutnya.

Elnatan menyebut bantuan dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur melalui bantuan keuangan (Bankeu) menjadi salah satu sumber pembiayaan yang memungkinkan pekerjaan kembali berjalan.

“Kita mulai lagi pekerjaan itu saat ada bantuan, misalnya dari Banprov,” jelasnya.

Ia juga mengungkapkan, dukungan pemerintah pusat melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tidak berlanjut secara rutin. Menurut Elnatan, bantuan dari sumber tersebut hanya diterima pada 2004.

“Tahun 2004, setelah itu tidak ada lagi bantuan dari APBN,” katanya.

Kondisi pendanaan yang bergantung pada ketersediaan anggaran membuat pembangunan Jembatan Mahkota 2 berlangsung dalam beberapa tahapan selama bertahun-tahun. Padahal, apabila pembiayaan dapat dipastikan sejak awal, ia memperkirakan proyek tersebut berpeluang rampung jauh lebih cepat.

“Kemarin itu lima tahun mungkin selesai kalau ada dana,” tegasnya.

Elnatan turut menanggapi anggapan bahwa aktivitas pelayaran di Sungai Mahakam menjadi penghambat utama pembangunan. Ia menjelaskan, keberadaan jalur pelayaran memang harus diperhitungkan selama proses konstruksi agar lalu lintas kapal tetap dapat berlangsung.

Persoalan pelabuhan dan jalur kapal sempat menjadi pembahasan ketika proyek dikerjakan. Namun, ia menilai faktor tersebut bukan alasan utama yang menyebabkan pembangunan berlangsung hingga belasan tahun.

“Walaupun waktu itu ada orang mengatakan bahwa kapal enggak bisa lewat, karena pelabuhan belum dipindah atau semua, ya itu kan cuma alasan politis. Sebenarnya nilainya adalah dana,” ungkapnya.

Dalam pelaksanaan proyek, Elnatan mengatakan timnya menangani pekerjaan pengeboran hingga pembangunan fondasi. Adapun pemasangan kabel stay pada struktur utama dilakukan oleh kontraktor asal China dengan menggunakan kabel produksi negara tersebut.

“Bor sampai fondasi kita semua. Nah, waktu pemasangan kabel, itu kan produksi dari Cina dan kontraktornya dari Cina,” bebernya.

Jembatan Achmad Amins yang memiliki panjang sekitar 1.428 meter itu akhirnya dibuka untuk masyarakat pada 2017, setelah melalui proses pembangunan yang dimulai 15 tahun sebelumnya.

Terkahir kata Elnatan, pengalaman proyek tersebut memperlihatkan pentingnya kepastian pembiayaan dalam pembangunan infrastruktur berskala besar. Tanpa dukungan anggaran yang berkelanjutan, pekerjaan yang secara teknis dapat dituntaskan dalam waktu lebih singkat berisiko tertunda dan memerlukan waktu penyelesaian lebih panjang. (MRD/Adv/DPRDSamarinda)

Example 120x600

Tinggalkan Balasan