AdvertorialDPRD KALTIM

Perpisahan Sekolah Tak Harus Mewah, Suara Keadilan dari Samarinda

×

Perpisahan Sekolah Tak Harus Mewah, Suara Keadilan dari Samarinda

Sebarkan artikel ini
Sekretaris Komisi IV DPRD Kaltim, Darlis Pattalongi. (Foto: Ist)
Example 468x60

UpdateNusantara.id, Samarinda – Di penghujung tahun ajaran, saat para siswa bersiap menutup lembar kenangan di bangku sekolah, muncul sebuah ajakan yang menyuarakan kesederhanaan dan keadilan. Bukan di hotel berbintang, bukan dengan pesta megah, tapi di halaman sekolah, tempat semua cerita bermula.

Pemerintah, melalui surat edarannya, telah melarang penyelenggaraan acara perpisahan di luar lingkungan sekolah, terutama yang melibatkan pungutan biaya. Kebijakan ini sontak menggugah perhatian publik, termasuk Komisi IV DPRD Kalimantan Timur.

Darlis Pattolongi, Sekretaris Komisi IV DPRD Kaltim, berdiri teguh di balik keputusan itu. Baginya, perpisahan sekolah bukan soal di mana, tapi bagaimana anak-anak mengingat momen itu.

“Yang kita jaga adalah rasa keadilan. Tidak semua orang tua berada dalam kondisi ekonomi yang sama,” ujarnya saat ditemui usai rapat kerja di Samarinda.

Kekhawatiran Darlis bukan tanpa alasan. Ia tahu betul betapa dilema itu terasa nyata.

“Bagi orang tua yang mampu, mungkin ini bukan masalah. Tapi bagi yang kurang mampu, bisa menjadi beban, bahkan memicu perasaan malu hingga membuat anak enggan hadir di acara perpisahan,” tuturnya.

Sebagai Ketua Komite di SMA Negeri 4 Samarinda, Darlis merasakan langsung dinamika di lapangan. Awalnya, sekolah tersebut merencanakan perpisahan di hotel. Iuran pun telah dibicarakan dengan orang tua. Namun setelah edaran resmi diterbitkan oleh kementerian, mereka sepakat menarik rem darurat.

“Kami langsung menggelar pertemuan ulang, membatalkan rencana di hotel, dan mengembalikan seluruh dana yang terkumpul. Hanya beberapa biaya yang memang sudah dipakai, seperti untuk medali dan pelatihan tari,” jelasnya.

Tak ingin mengecewakan siswa yang telah mempersiapkan diri, mereka yang berlatih menari, memesan seragam, hingga menyusun susunan acara, Darlis dan pihak sekolah memutuskan tetap melanjutkan perpisahan. Bedanya, kini acaranya digelar di sekolah.

“Yang penting bukan mewahnya tempat, tapi makna dan kebersamaan yang dibangun,” tegas Darlis.

Agar tidak membebani orang tua, ia pun menggandeng para alumni untuk berkontribusi. Dari situ lahirlah semangat gotong-royong, alumni menyumbang, siswa tersenyum, dan sekolah tetap menjadi tempat berpulang yang hangat.

Di tengah sorotan terhadap glamor perpisahan yang kerap tak berpihak pada semua, langkah SMA Negeri 4 Samarinda menjadi cerita tersendiri. Sebuah pengingat, bahwa perpisahan yang berkesan tak selalu harus mahal. Kadang, yang paling membekas adalah yang paling sederhana asal dilandasi kebersamaan dan niat yang tulus. (HM/Adv/DPRDKaltim)

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

58 + = 65