UpdateNusantara.id, Samarinda – Pagi belum terlalu terik di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), tapi geliat kehidupan sudah terasa berbeda. Jalan-jalan yang dulu rusak dan becek kini mengilap oleh aspal baru, menghubungkan desa ke desa, membuka pintu peluang yang dulu tertutup rapat.
Di tengah denyut pembangunan yang kian pesat, satu suara dari Gedung Karang Paci di Samarinda angkat bicara, pembangunan harus lebih dari sekadar fisik. Baharuddin Muin, anggota Komisi III DPRD Kaltim, yang tak hanya memuji kemajuan infrastruktur PPU, tetapi juga mengingatkan agar pembangunan tak kehilangan arah.
“Jalan dari Sepaku ke Petung sekarang sudah jauh lebih baik. Ini bukti nyata bahwa pembangunan dirasakan masyarakat,” ujarnya dengan nada optimistis.
Namun di balik pujian itu, Baharuddin Muin mengajukan catatan penting, infrastruktur hanyalah permulaan. Bagi politisi Partai Gerindra yang dikenal dekat dengan masyarakat pedesaan ini, pembangunan baru bermakna jika menyentuh sisi kemanusiaan—ketika jalan yang baik juga berarti akses yang lebih cepat ke rumah sakit, peluang dagang di pasar, atau anak-anak yang tak lagi harus berjalan jauh ke sekolah.
“Kami ingin kualitas hidup masyarakat juga ikut meningkat, tidak hanya sekadar melihat jalan mulus atau gedung-gedung megah,” tegasnya. “Pembangunan harus terasa dalam kehidupan sehari-hari,” imbuhnya.
Menurut Muin, infrastruktur adalah tulang punggung yang menopang tiga sektor utama: ekonomi, pendidikan, dan kesehatan. Ia melihat langsung bagaimana jalan baru membuat petani lebih mudah membawa hasil panen ke pasar, bagaimana anak-anak sekolah bisa berangkat lebih pagi karena rute yang lebih cepat, dan bagaimana ambulans kini bisa menjangkau desa terpencil dalam waktu lebih singkat.
Namun, semua itu hanya akan berkelanjutan jika masyarakat turut dilibatkan. “Rakyat harus jadi subjek, bukan objek,” katanya. “Kalau mereka dilibatkan, mereka akan merasa memiliki. Hasilnya akan jauh lebih bertahan lama,” sambungnya.
Dalam pandangannya, keberhasilan pembangunan Penajam Paser Utara sebagai daerah penyangga Ibu Kota Nusantara bukan hanya akan tercermin dari tinggi bangunan atau lebar jalan, tetapi dari senyum warga yang kini memiliki harapan baru.
“Kita harus bergandengan tangan. Tak ada yang bisa berjalan sendiri. Kolaborasi antara pusat, daerah, swasta, dan masyarakat adalah kunci,” kata Baharuddin Muin menutup dengan nada penuh harap.
Dan di tengah riuh pembangunan IKN, suara seperti Baharuddin Muin menjadi pengingat penting: bahwa inti dari semua ini adalah manusia, dan pembangunan sejati adalah ketika mereka bisa hidup lebih layak, lebih sehat, dan lebih bermartabat. (HM/Adv/DPRDKaltim)















