UpdateNusantara.id, Samarinda – Hujan yang turun deras sejak dini hari beberapa waktu yang lalu membuat sebagian besar wilayah kota lumpuh. Di Loa Janan Ilir, puluhan rumah terendam hingga setengah badan.
Jalan HM Rifadin yang biasa dilalui ribuan kendaraan tiap hari mendadak tak bisa diakses—hanyut dalam genangan air yang tak kunjung surut.
Banjir bukan lagi peristiwa mengejutkan di ibukota Kalimantan Timur ini. Namun, kali ini, suara peringatan datang dengan nada lebih tinggi. Dari ruang Komisi IV DPRD Kaltim, Sekretaris Komisi Darlis Pattalongi melontarkan pernyataan keras, “Ini bukan soal hujan. Ini soal bagaimana kita membiarkan kota ini gagal mengelola ruang hidupnya sendiri.”
Pernyataan Darlis bukan sekadar kritik. Ia mencerminkan kekecewaan sekaligus keprihatinan mendalam terhadap tata kelola lingkungan yang dianggapnya amburadul.
Menurutnya, banjir Samarinda adalah cermin dari permasalahan struktural yang selama ini dibiarkan mengakar—kerusakan hutan di hulu karena aktivitas tambang, sistem drainase yang buruk, serta kebijakan penataan ruang yang tak berpihak pada keberlanjutan.
“Kita tidak sedang menghadapi fenomena baru. Ini berulang, dan korbannya selalu sama: rakyat kecil,” ujarnya, tegas.
Darlis menyerukan evaluasi menyeluruh, bukan solusi tambal sulam. Ia menekankan pentingnya rehabilitasi daerah aliran sungai, penertiban pertambangan, dan pembenahan infrastruktur pengendali banjir sebagai langkah konkret yang harus segera dilakukan.
Sebagai ibukota provinsi, lanjutnya, Samarinda seharusnya menjadi contoh mitigasi bencana. “Bukan malah jadi langganan banjir,” katanya.
Di lapangan, upaya penanganan terus dilakukan. Tim BPBD masih berjibaku menyalurkan bantuan dan mengevakuasi warga. Tapi kepastian soal kapan banjir akan surut atau kapan masalah ini akan benar-benar selesai, tetap jadi tanda tanya.
Bagi Darlis, harapan hanya akan muncul jika ada kemauan politik yang serius. “Jika pendekatannya masih reaktif, maka Samarinda akan terus jadi cerita sedih tiap musim hujan,” pungkasnya.
Dan di tengah ancaman banjir yang masih menyelimuti jalanan kota, warga hanya bisa berharap: semoga kali ini suara dari gedung dewan benar-benar didengar. (HM/Adv/DPRDKaltim)















