UpdateNusantara.id, Samarinda – Upaya meningkatkan pendidikan vokasi di Kalimantan Timur terus digencarkan, namun sebuah proyek bernilai miliaran rupiah justru terhenti sebelum sempat memberi manfaat. Kolam renang senilai Rp9 miliar yang dibangun di SMK Negeri 2 Sangatta Utara, Kutai Timur, kini terbengkalai dan DPRD Kaltim mulai angkat suara.
Proyek yang sedianya menjadi fasilitas penunjang program maritim di sekolah tersebut kini terhenti karena konflik antara kontraktor pelaksana, CV. Kalembo Ade Mautama, dengan toko penyedia material bangunan, Berlian Jaya Abadi. Perselisihan itu menyebabkan pasokan material dihentikan, memaksa pekerjaan konstruksi berhenti total.
Kondisi ini memantik perhatian Komisi IV DPRD Kaltim. Salah satu anggotanya, Agus Aras, merasa geram melihat proyek pendidikan yang begitu penting justru terancam gagal.
“Masalah ini harus segera diselesaikan. Sudah terjadi keterlambatan, dan Dinas Pendidikan tidak boleh tinggal diam. Semua pihak terkait harus duduk bersama mencari solusi,” ujar Agus, yang juga merupakan perwakilan daerah pemilihan Bontang, Kutai Timur, dan Berau.
Menurut Agus, meski nilainya mencapai Rp9 miliar, proyek ini tidak bisa disamakan dengan pembangunan kolam renang biasa. Spesifikasinya dirancang untuk menunjang kurikulum pendidikan kelautan dan maritim yang diterapkan di SMKN 2 Sangatta Utara.
“Ini bukan kolam rekreasi. Ini bagian dari laboratorium pendidikan yang punya standar teknis tersendiri,” tegasnya.
Tak hanya itu, proyek ini juga menjadi bagian dari strategi Perencanaan Berbasis Data (PBD) dalam pengembangan pendidikan vokasi di Kalimantan Timur. Bagi Agus, kegagalan proyek ini bukan hanya soal kerugian anggaran, tetapi juga soal masa depan ratusan siswa yang menggantungkan harapannya pada kualitas fasilitas pendidikan.
Agus mendesak Dinas Pendidikan untuk bergerak cepat. Ia menargetkan pembangunan harus rampung paling lambat Mei mendatang. Jika tidak, evaluasi menyeluruh perlu dilakukan.
“Kami siap turun ke lapangan. Fungsi pengawasan DPRD tak bisa berhenti hanya pada laporan di atas kertas,” ujarnya.
Kini, yang tersisa di lapangan hanyalah struktur setengah jadi, ditinggalkan di bawah matahari dan hujan. Tapi jika desakan DPRD Kaltim benar-benar digerakkan, mungkin saja kolam itu akan kembali digarap dan mimpi para siswa untuk belajar langsung di fasilitas kelautan yang layak bisa kembali mengapung. (HM/Adv/DPRDKaltim)















