AdvertorialDPRD KALTIM

Gedung Baru, Harapan Baru: Membuka Pintu Ekonomi Kreatif Berbasis Budaya

×

Gedung Baru, Harapan Baru: Membuka Pintu Ekonomi Kreatif Berbasis Budaya

Sebarkan artikel ini
Anggota Komisi IV DPRD Kaltim, Fadly Imawan saat menghadiri acara peresmian Gedung BPK Wilayah XIV. (Foto: Humas Sekretariat DPRD Kaltim)
Example 468x60

UpdateNusantara.id, Samarinda – Pagi yang hangat di Samarinda, Jumat (30/5/2025) secercah harapan baru bagi masa depan budaya Kalimantan Timur resmi lahir. Bukan sekadar peresmian sebuah bangunan pemerintah, melainkan momentum yang terasa seperti gong pertama bagi simfoni panjang pelestarian warisan budaya—yang kini digandeng erat dengan geliat ekonomi kreatif.

Gedung Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XIV kini berdiri megah. Namun yang jauh lebih penting dari wujud fisiknya adalah makna yang menyelimutinya: sebuah titik tolak untuk membangkitkan budaya lokal dari sekadar simbol menjadi sumber daya nyata yang menghidupi masyarakatnya.

Di tengah riuh rendah tamu undangan dan denting alat musik tradisional yang mengiringi seremoni, Anggota Komisi IV DPRD Kaltim, Fadly Imawan, tampak antusias. Ia tak sekadar hadir sebagai wakil rakyat, tetapi sebagai seorang yang percaya bahwa budaya adalah masa depan.

“Jika dikelola dengan benar, kekayaan budaya Kaltim bisa menjadi pondasi ekonomi kreatif daerah,” ujarnya penuh keyakinan.

“Inilah saatnya menjadikan budaya bukan hanya sebagai warisan, tapi sebagai peluang usaha dan penciptaan lapangan kerja,” sambung Fadly Imawan.

Pernyataan itu seolah menggambarkan arah baru yang ingin ditempuh Kalimantan Timur: bukan hanya menjaga cerita masa lalu, tetapi mengemasnya menjadi narasi masa depan.

Hadir pula Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, yang meresmikan langsung bangunan ini. Ia berdialog dengan pelaku budaya, akademisi, dan masyarakat adat.

Dialog yang menurut Fadly Imawan menjadi penanda bahwa pemerintah pusat benar-benar hadir, bukan hanya dalam bentuk program, tetapi juga mendengar langsung suara dari akar rumput budaya.

Bagi Fadly, pelibatan masyarakat lokal, khususnya anak muda, adalah kunci. Dalam pandangannya, budaya tidak akan lestari hanya dengan dokumentasi atau seremoni. Ia harus hidup di tengah masyarakat, hadir dalam bentuk-bentuk baru—konten digital, karya seni modern, pariwisata komunitas.

“Kita harus masuk ke ruang-ruang digital, festival seni, dan platform ekonomi kreatif agar budaya kita punya pasar,” tegasnya. “Ini juga sekaligus menjadi sarana edukasi dan diplomasi budaya yang efektif.”

Gagasan itu bukan tanpa alasan. Kalimantan Timur bukan hanya kaya tambang, tetapi juga kaya cerita. Ada legenda, ritual, anyaman, tarian, ukiran, hingga petuah-petuah tua yang siap disulap menjadi produk, pertunjukan, atau konten digital yang menggugah dunia.

Tak berhenti di situ, Fadly juga menekankan pentingnya kolaborasi—antara BPK, seniman lokal, komunitas adat, dan dunia pendidikan. Semua harus duduk satu meja, membicarakan masa depan budaya seperti membicarakan masa depan industri: strategis dan terukur.

“Budaya bukan sekadar simbol, tapi aset ekonomi,” tuturnya. “Jika kita rawat dan kelola dengan pendekatan modern, maka budaya bisa menjadi identitas yang memperkuat daya saing Kaltim di kancah nasional maupun global,” tegas Fadly.

Gedung itu kini berdiri kokoh. Tapi sejatinya, yang baru saja dibangun adalah harapan—bahwa budaya tak lagi menjadi kenangan, tetapi menjadi jalan hidup. Jalan yang mungkin berliku, tapi penuh warna. (HM/Adv/DPRDKaltim)

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

− 1 = 4