AdvertorialDPRD KALTIM

DPRD Kaltim Dorong Kopi Lokal Kukar Jadi Andalan Ekonomi Desa

×

DPRD Kaltim Dorong Kopi Lokal Kukar Jadi Andalan Ekonomi Desa

Sebarkan artikel ini
Anggota Komisi II DPRD Kaltim, Muhammad Husni Fahruddin. (Foto: Ist)
Example 468x60

UpdateNusantara.id, Samarinda – Desa Jonggon, Kutai Kartanegara menyimoan aroma biji kopi yang baru disangrai membawa harapan yang lebih besar dari sekadar secangkir minuman. Bagi sebagian orang, kopi adalah rutinitas pagi. Tapi bagi Muhammad Husni Fahruddin, anggota Komisi II DPRD Kaltim, kopi adalah jalan menuju kemandirian ekonomi desa.

“Kita tidak sedang bicara soal minuman saja. Ini tentang membuka lapangan kerja, menghidupkan UMKM, dan membangun identitas lokal,” ujar Ayyub, sapaan akrab politisi dari Partai Golkar itu.

Kopi lokal Kukar, khususnya dari Jonggon dan wilayah sekitarnya, kini menjadi sorotan karena potensinya yang luar biasa—bukan hanya dari segi rasa, tapi juga sebagai alat pemberdayaan berbasis komunitas.

Di tengah dominasi sektor tambang dan perkebunan sawit di Kalimantan Timur, Ayyub melihat kopi sebagai alternatif yang lebih berkelanjutan dan ramah terhadap sosial dan lingkungan.

“Ini soal kedaulatan ekonomi desa,” tegasnya. “Kalau kopi ini dikelola serius, bukan tidak mungkin desa-desa di Kukar menjadi motor penggerak ekonomi baru Kaltim,” sambungnya.

Ayyub menekankan pentingnya keberpihakan pemerintah daerah dalam mendukung rantai nilai kopi secara utuh—dari pelatihan petani, pendampingan pascapanen, pengemasan produk, hingga promosi ke pasar nasional dan internasional.

Tak hanya itu, ia juga melihat peluang besar untuk menjadikan kopi Kaltim sebagai produk specialty dengan karakter unik. Setiap daerah memiliki kombinasi tanah, ketinggian, dan iklim yang menciptakan profil rasa khas.

“Kita bisa punya kopi khas Kaltim, yang tak kalah dari Gayo, Toraja, atau Kintamani,” katanya optimistis.

Ayyub membayangkan desa-desa seperti Jonggon dan Tenggarong Seberang menjadi pusat-pusat pertanian bernilai tinggi yang mampu mengangkat harkat ekonomi masyarakat lokal. Baginya, keberhasilan satu desa bisa menjadi inspirasi bagi desa-desa lain di Kaltim.

“Potensi ini tak boleh berhenti di cerita lokal. Harus naik kelas,” ujarnya.

“Dan untuk itu, perlu ada dukungan kebijakan yang jelas, program yang terarah, serta keberanian untuk menjadikan kopi sebagai simbol kemandirian ekonomi desa,” tambah Ayub.

Dalam pandangan Ayyub, kopi lebih dari komoditas. Ia adalah wujud dari semangat berdiri di atas kaki sendiri—sebuah cita-cita yang tak pernah usang di tengah dinamika pembangunan Kalimantan Timur yang terus bergerak. (HM/Adv/DPRDKaltim)

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

43 − 40 =