AdvertorialDPRD KALTIM

Hamas Bicara Pendidikan: Karakter Harus Jadi Fondasi, Bukan Tambahan

×

Hamas Bicara Pendidikan: Karakter Harus Jadi Fondasi, Bukan Tambahan

Sebarkan artikel ini
Ketua DPRD Kaltim, Hasanuddin Mas'ud. (Foto: Ist)
Example 468x60

UpdateNusantara.id, Samarinda – Makin meningkatnya sorotan terhadap kenakalan remaja di Kalimantan Timur, suara tegas datang dari pucuk pimpinan DPRD provinsi. Hasanuddin Mas’ud, atau yang akrab disapa Hamas, menyuarakan keprihatinan yang tidak berhenti pada permukaan masalah.

Baginya, solusi tak cukup berhenti di ruang sidang, apalagi di ruang hukuman. Harus dimulai jauh lebih awal—di ruang kelas, di halaman sekolah, bahkan di ruang makan keluarga.

“Pendidikan karakter bukan tambahan, melainkan inti,” kata Hamas, Ketua DPRD Kaltim, dengan nada serius.

“Kita harus hadir lebih awal dalam membentuk watak anak-anak, bukan hanya bertindak setelah masalah muncul,” imbuhnya.

Bagi Hamas, sekolah tidak boleh lagi dipahami semata-mata sebagai tempat mengejar nilai akademik. Ia melihat sekolah sebagai tempat yang seharusnya aman dan kondusif untuk membentuk kepribadian, membangun empati, serta menanamkan nilai-nilai sosial yang sehat dan berakar.

Lonjakan kasus kenakalan pelajar—meski data pastinya belum dirilis secara resmi—telah cukup membuat berbagai pihak mulai gelisah. Tapi alih-alih mendorong pendekatan yang keras dan menghukum, Hamas mengajak semua pihak menempuh jalan yang lebih lembut dan jangka panjang: pembinaan karakter.

“Kita perlu pendekatan yang memberi harapan, bukan yang membuat mereka merasa putus asa. Pendidikan itu harus memulihkan, bukan menghukum,” tegas politisi Partai Golkar itu.

Hamas mengajak Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kaltim hingga level kabupaten/kota untuk bekerja sama lebih erat dengan sekolah-sekolah.

Ia menekankan pentingnya membangun sistem pembinaan yang strategis, efektif, dan humanis. Salah satu unsur yang tak boleh dilupakan adalah keterlibatan orang tua sejak dini, sebagai garda pertama dalam proses pendidikan anak.

“Sekolah harus jadi tempat yang membentuk, bukan tempat yang menekan. Ini tanggung jawab kita bersama,” ujarnya.

Bagi Hamas, kekerasan yang terjadi dalam lingkungan pendidikan adalah alarm yang tak bisa lagi diabaikan. Ia menilai perlunya evaluasi mendalam terhadap kurikulum pembinaan, sistem pengawasan internal sekolah, serta kualitas interaksi antara guru dan siswa.

Semua itu, menurutnya, harus diarahkan untuk menciptakan lingkungan belajar yang menyelamatkan, bukan yang menghakimi.

Hamas menilai, masa depan anak-anak Kaltim tidak boleh ditentukan oleh kesalahan sesaat. Tapi oleh kesempatan yang diberikan berulang kali untuk tumbuh, belajar, dan menjadi pribadi yang lebih baik. (HM/Adv/DPRDKaltim)

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

12 − 5 =