AdvertorialDPRD KALTIM

Realisasi Program MBG di Kaltim, Menyambung Gizi Anak dan Asa Petani

×

Realisasi Program MBG di Kaltim, Menyambung Gizi Anak dan Asa Petani

Sebarkan artikel ini
Wakil Ketua DPRD Kaltim, Ananda Emira Moeis. (Foto: Ist)
Example 468x60

UpdateNusantara.id, Samarinda – Dari sebuah dapur umum di jantung Kutai Kartanegara, aroma masakan menguar sejak pagi. Bukan sekadar dapur biasa, tempat ini adalah nadi dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang setiap harinya menyediakan makanan sehat untuk ribuan siswa.

Tapi di balik piring-piring bergizi yang tersaji, ada cerita lain yang sedang bertumbuh—cerita tentang petani lokal yang perlahan mulai menemukan arah baru.

Wakil Ketua DPRD Kaltim, Ananda Emira Moeis, melihat langsung kisah itu saat berkunjung ke salah satu dapur MBG yang melayani 3.500 siswa per hari.

Bagi Ananda—atau “Nanda,” sapaan akrabnya—program ini bukan hanya soal memberi makan. Ini tentang membangun ekosistem yang memberdayakan.

“Petani sekarang lebih proaktif,” ujarnya dengan antusias. “Mereka mulai bertanya ke dapur MBG: saya tanam apa lagi yang dibutuhkan? Mereka tidak lagi sekadar menjual, tapi mulai menyusun rencana,” sambung Nanda.

Sinergi yang terbentuk antara petani dan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menjadi bukti bahwa kebijakan gizi bisa berdampak lebih luas dari yang dibayangkan.

Bukan hanya soal menurunkan angka stunting atau memperbaiki nutrisi anak-anak, tetapi juga membuka jalan bagi transformasi ekonomi lokal yang berbasis pertanian rakyat.

Namun, di tengah geliat ini, masih ada catatan penting. Ketimpangan distribusi program MBG masih menjadi pekerjaan rumah besar.

Tak semua wilayah di Kalimantan Timur bisa menikmati manfaatnya secara merata. Inilah yang kemudian menjadi sorotan Ananda.

“Program ini harus dijalankan lebih merata dan berkelanjutan. Pemerintah daerah tidak bisa lepas tangan,” tegasnya.

Ia berharap Pemprov Kaltim bersama kabupaten/kota bisa mengambil peran aktif dalam pengawasan dan pelaksanaan MBG.

Bagi Ananda, keberhasilan program ini tak bisa dilepaskan dari koordinasi lintas level—daerah hingga pusat. Ia mendorong agar pengawasan MBG dapat disambungkan secara langsung dengan Badan Gizi Nasional (BGN), agar evaluasi di daerah bisa ditindaklanjuti lebih cepat dan efektif.

“Ini bukan hanya program makan gratis,” tandasnya. “Ini investasi sosial. Kita sedang menyiapkan generasi sehat, sekaligus membuka peluang baru bagi petani untuk berkembang,” imbuh Nanda.

Dan di dapur-dapur seperti yang ada di Kukar itu, program MBG terus bekerja diam-diam. Menyambung kebutuhan gizi anak-anak dengan masa depan pertanian lokal. Sebuah jembatan kecil—tapi bermakna besar—antara pangan, pendidikan, dan harapan. (HM/Adv/DPRDKaltim)

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

89 + = 97